Moving Abroad, Not That Fancy

Most people think (terutama sebagian besar orang di Indonesia) living abroad is fancy, life achievement, or maybe step ahead from others, whether for school, work or even only for vacation. Simpelnya begini, meskipun sudah jaman 'Apple' dan hampir semua orang sudah pernah naik pesawat berkat Airasia, pergi keluar negeri itu kerap masih dianggap sebagai suatu hal yang 'wah'. Apalagi pergi ke negara-negara yang masih terbilang jarang dijadikan tujuan wisata, karena akses tiket pesawat yang harganya selangit, seperti ke Eropa Timur, Afrika ataupun Amerika. Waktu saya memutuskan untuk mengadu nasib ke Ostrali pun begitu, beberapa teman spontan bergumam ' Wah asyiknya ketemu bule.' atau 'Hebat deh lo.'. Padahal sesampai di sini, saya juga sama saja kayak mereka, cari kerja lagi, daftar les, bangun pagi, cuci baju sendiri, bedanya semua itu dilakukan di negara orang. That's it.

Pada kenyataannya hidup di negeri orang itu selain jauh dari sanak dan saudara, juga harus kerja keras untuk bertahan hidup. Kalau di negara sendiri, mau apa bisa minta bantuan kerabat atau bahkan menyewa asisten rumah tangga untuk bantu keperluan rumah tangga. Kalau di sini, sudah menjadi budaya untuk hidup lebih mandiri, kerja dan cari uang untuk kebutuhan hidup iya, beres-beres rumah juga iya. Saya sendiri juga heran, saya yang tadinya selama di Jakarta tidak pernah menyentuh dapur dan sapu serta alat pel, di sini semua itu sudah jadi makanan sehari-hari. Saya sendiri masih merasa cukup beruntung ngga perlu masak (tugas masak sudah menjadi tanggung jawab my lovely sister), karena beberapa teman saya yang ambil kuliah di luar negeri dan harus ngekos, mau ngga mau jadi jago masak berbagai macam makanan, dari yang instan sampai yang agak ribet mereka bisa. Salut.

Lalu kenapa masih banyak orang yang ingin tinggal di luar negeri?

Ada beberapa kenalan kerabat yang sudah bertahun-tahun tinggal jauh dari keluarga di luar negeri dan terbilang hanya pulang dua tahun sekali ke negaranya, itupun tidak selalu. Bahkan ada yang sudah sebelas tahun tinggal di luar negeri dan sampai sekarang belum ada pikiran untuk kembali ke Indonesia, mereka justru sedang mencari cara agar visa tinggal mereka diperpanjang lagi. Selain itu ada juga kenalan baru saya, seorang supir taksi asal Sumatera dan sudah sepuluh tahun lebih tinggal di Brisbane serta memiliki permanent resident dan rumah sendiri. Bermodalkan tanda kependudukan permanent resident, empat kepala keluarga menyicil dua mobil taksi yang harus dicicil setiap bulannya. Satu mobil dicicil oleh dua kepala keluarga dan mereka silih berganti mencari nafkah dengan menjadi supir taksi. Rumah mereka? Besar dan terbilang luas dengan halaman belakang yang sebesar lapangan bola volley. Menurut saya hidup mereka terbilang layak untuk ukuran kehidupan keluarga di sini. Keinginan untuk pulang kembali ke kampung halamannya? Nihil. Itu mungkin contoh yang sukses, tapi ada juga contoh yang kurang beruntung. Kenalan saya yang lain, seorang pemilik kedai masakan Indonesia favorit kakak ipar saya, akhirnya memutuskan untuk gulung tikar dan sampai sekarang belum memutuskan untuk mencari nafkah ataupun pulang ke Indonesia. Mereka masih bisa bertahan hidup berkat tunjangan dari pemerintah. Keinginan untuk pulang kembali ke kampung halamannya? Sepertinya belum. Sejauh yang saya tahu, tinggal di luar negeri menjadi pilihan mereka karena masalah kesejahteraan dan ketenangan hidup untuk anak-anak mereka. Apakah negara kami sudah tidak nyaman untuk ditinggali? Coba anda jawab pertanyaan itu sendiri. Ada lagi teman saya yang saat ini notabene masih tinggal di Indonesia dan berencana sehabis menikah akan hijrah dan hidup di negara orang. Waktu saya tanya kenapa, dia bilang memang sudah sejak lama pengen tinggal di negeri orang. Bukannya saya menjudge mereka yang ingin hijrah ke negeri orang, saya sendiri juga pernah kok menulis 'tinggal di luar negeri' sebagai salah satu yearly wish list saya tahun lalu. Itu pilihan hidup dan kita memiliki hak otorasi atas hidup kita sendiri. Akan tetapi, sekali lagi jangan kira hidup di negeri orang itu enak, sama saja dengan hidup di negara kita sendiri, bahkan justru harus ekstra keras berusaha cari uang untuk makan dan hidup. Kalaupun tujuan utama tinggal di luar negeri karena kuliah dan masih dibiayai orang tua dari negara asalnya, minimal tetap harus cuci baju, masak dan beres-beres keperluan sendiri. Not that fancy.

Comments

Post a Comment

Popular Posts